Simak Efek Rasa Bersyukur Pada Otak Manusia

Efek Rasa Bersyukur Pada Otak Manusia

Simak Efek Rasa Bersyukur Pada Otak Manusia – Tahukan Anda terdapat efek rasa bersyukur pada otak manusia? Konsep syukur – perasaan bersyukur atas apa yang Anda miliki – adalah konsep yang sangat kuat.

Baca Juga: Orang yang Kebiasaan Pakai Emotikon Lebih Sering Berhubungan Seks

Para ilmuwan telah mengeksplorasi perasaan bersyukur secara mendetail dalam beberapa dekade terakhir, dan penelitian telah menemukan bahwa merasakan dan mengungkapkan rasa terima kasih kita kepada orang lain dapat memiliki efek positif nyata pada kesehatan fisik dan kesejahteraan psikologis kita.

Liburan seperti Thanksgiving dirancang dengan perasaan bersyukur, tetapi ilmu syukur mengatakan bahwa jika Anda berlatih syukur sepanjang tahun dan menjadikannya bagian konstan dari pandangan Anda, Anda dapat memperoleh sejumlah efek yang baik.

Ilmu syukur adalah bagian dari tubuh penelitian yang dikenal sebagai psikologi positif, yang mempelajari bagaimana pendekatan tertentu terhadap kehidupan dapat memengaruhi kesejahteraan kita. Peneliti psikologi positif telah menunjukkan bahwa efek kesehatan dari rasa terima kasih tidak boleh diremehkan.

Baca Juga: Pasangan yang Paling Berbahagia Sekalipun Pasti Sering Hadapi Masalah

Penelitian telah menunjukkan bahwa mempraktikkan rasa terima kasih dengan cara yang nyata – dengan menulis di jurnal setiap hari tentang sesuatu yang Anda syukuri, misalnya – dapat mengurangi gejala depresi, meningkatkan kesehatan pada pasien gagal jantung, dan membantu orang dalam pekerjaan yang membuat stres tidur dan makan lebih baik.

Dr Fuschia Sirois mengungkapkan, rasa syukur adalah sumber daya yang berharga untuk menciptakan ketahanan dan membantu meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan. Dampak dari praktik syukur pada kesehatan fisik cukup besar, menurut ilmu pengetahuan.

Dr Sirois menjelaskan, sampai saat ini kami telah melakukan penelitian yang telah menunjukkan manfaat rasa terima kasih untuk orang-orang dengan penyakit radang usus, radang sendi, dan fibromyalgia.

Baca Juga: Menjadi Manusia Pagi Tidak Sesulit yang Anda Bayangkan

Bahkan pada orang dengan penyakit parah dan rendahnya dukungan sosial, berlatih bersyukur setiap hari menurunkan risiko depresi hingga enam bulan kemudian. Khususnya, efeknya sedikit lebih rendah pada orang yang hidup dengan fibromyalgia, yang bisa menjadi kondisi yang sangat menyakitkan.

Rasa syukur dapat membantu kita merasa lebih baik karena itu mengikat kita dengan orang lain dan membantu kita menjaga diri kita sendiri. Tinjauan studi tentang terima kasih pada tahun 2010 menemukan bahwa itu telah terbukti meningkatkan hubungan interpersonal, kepercayaan dan dukungan emosional.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Personality & Individual Differences pada 2013 juga menunjukkan bahwa rasa terima kasih mungkin memiliki efek kesehatan positif secara tidak langsung karena memotivasi kita untuk mencari perilaku perawatan diri, seperti berolahraga, makan makanan padat gizi, dan pergi ke dokter ketika kita sakit.

Baca Juga: Main Media Sosial di Waktu Senggang Pengaruhi Stabilitas Mental

Dr Sirois memaparkan, penelitian saya menunjukkan bahwa orang yang bersyukur cenderung lebih memperhatikan diri mereka sendiri dengan lebih sering melakukan perilaku yang meningkatkan kesehatan, seperti makan lebih sehat, berolahraga secara teratur, tidur nyenyak, dan menghindari kebiasaan tidak sehat.

Penekanan pada kebiasaan positif ini, katanya, dapat mengurangi risiko penyakit kronis dan serius di masa depan. Namun, kekuatan psikologis rasa terima kasih melampaui perawatan diri; secara fisik dapat mengubah otak kita.

Rasa terima kasih membantu orang mengalihkan perhatian mereka ke hal positif ketika mereka berhadapan dengan situasi negatif dan stres.

Ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa tidak ada pusat syukur tunggal di otak, tetapi dapat memiliki efek signifikan pada aktivitas otak. Sebuah studi yang diterbitkan di Neuroimage pada 2016 menemukan bahwa berlatih bersyukur selama tiga bulan secara fisik mengubah aktivitas otak.

Baca Juga: Kebiasaan Vape Bisa Pengaruhi Kualitas Tidur

Para peserta dalam penelitian ini menulis surat yang mengungkapkan rasa terima kasih mereka, dan tiga bulan kemudian mereka menunjukkan “sensitivitas saraf yang lebih besar dan tahan lama terhadap rasa terima kasih”, menurut penelitian.

Dengan kata lain, mereka mengalami lebih banyak perasaan syukur secara umum, dan otak mereka juga menunjukkan lebih banyak aktivitas setiap kali mereka menyatakan rasa terima kasih, khususnya di medial prefrontal cortex.

Wilayah otak itu terkait dengan pengambilan keputusan dan pembelajaran. Penelitian di Frontiers in Psychology pada 2015 juga menunjukkan bahwa rasa terima kasih menyebabkan aktivitas di korteks cingulate anterior, yang membantu kita mengatur emosi kita.

Sirois memberi tahu bahwa ada beberapa alasan mengapa rasa syukur mungkin begitu kuat secara neurologis dan psikologis.

Baca Juga: Jangan Ambil Keputusan Saat Perut Lapar

Dia mengungkapkan, rasa terima kasih membantu orang mengalihkan perhatian mereka ke hal positif ketika mereka berhadapan dengan situasi negatif dan penuh tekanan.

Bersyukur, kata dia, membuat otak menjadi lebih fokus. Sebab, bersyukur juga berarti melihat gambaran besar yang dapat membantu mengontekstualisasikan masalahmu dan memberikan perspektif baru.

Menurut dia, otak yang stres, hanya akan melihat berbagai hal melalui perspektif yang sempit karena pusat-pusat ancamannya diaktifkan. Rasa terima kasih mendorong kita untuk mengambil perspektif yang lebih luas, yang dapat membantu penyelesaian masalah, apakah itu situasi yang sulit di tempat kerja atau masalah pribadi.

Related Post